Ketika Anak sudah Memukul Kepala Ibunya… 😦

By Fransisca Romana

Kompas, 31 Oktober 2011

Tidak pernah terbayang di benak Sarna (46), gagang cangkul itu melayang dari tangan anaknya dan mendarat di kepalanya hingga berdarah. Sarwanto alias Awong (21) tega melukai kepala sang Ibu hanya gara-gara marah soal makanan. Satu lagi potret buram dari kehidupan di Ibu Kota.

Hari senin (24/10), Awong baru saja bangun tidur setelah semalam mabuk-mabukan. Karena lapar, dia mencari ibunya untuk minta makan. Saat itu, Sarna tengah mencuci baju… Karena belum sempat memasak dan harus menyelesaikan cucian yang banyak, Sarna lalu membelikan sebungkus nasi di warung. “Saya kasih nasinya, agak saya lemparkan karena buru-buru mau menyelesaikan cucian” kata Sarna, lalu Awong teriak “Loe gak sopan amat sich” lalu Awong ke belakang di kira ambil piring ternyata ambil gagang cangkul lalu memukul Sarna”

Tak pernah dipukul…

Kini, Awong terpaksa harus melewatkan hari-harinya di penjara Kepolisian Sektor Metropolitan Tambora, Awong hanya bisa menyesali perbuatan-nya… Menurut Awong, saat tangan-nya melayangkan gagang cangkul ke kepala Ibu-nya, pikiran-nya tak sadar karena bangun tidur dan habis mabuk semalam… Awong mengaku baru kali ini melakukan perbuatan itu padahal sejak kecil Awong tidak pernah di pukul sama Ortu-nya

Kehidupan yang keras…

Sejak berumur 7 tahun, Awong sudah mengamen. Saat anak lain menikmati dongeng atau belajar membaca… Awong harus bertarung di jalana Jakarta yang keras. Dia juga kadang-kadang bekerja serabutan di usaha konfeksi sampai saat ini. Sebagian uang yang didapat dia berikan juga ke Ibu-nya. Selebihnya untuk makan dan bersenang-senang bersama teman-teman-nya. Bersenang-senang menurut Awong adalah minum-minuman keras sampai berbotol-botol. Hampir setiap hari dia dan teman-temannya mabuk. Karena sejak kecil Awong sulit diatur, akhirnya Sarna dan suaminya membiarkan Awong tumbuh semaunya dan tidak sempat mengawasi pergaulan Awong karena Sarna dan suaminya kerja dari pagi hingga petang dan harus banting tulang demi memberi makan anak-anaknya. Jika awong punya keinginan dan tidak dipenuh oleh orangtua-nya… Awong sering memaki tetapi tidak sampai memukul… Awong selalu menghabiskan waktu di jalanan… entah bersama siapa ? entah melakukan apa ?

Cinta seorang Ibu…

Meski Sarna sakit hati karena dipukul anaknya sendiri, naluri Sarna sebagai seorang Ibu tidaklah pudar… Ketika menerima surat pemberitahuan dari Kepolisian tentang penahanan anaknya, Sarna berkeinginan untuk menebus anak-nya dari penjara… tapi niat itu tidak disetujui oleh suami-nya. Tiga hari sebelumnya Ayahnya juga sempat menjadi sasaran kemarahan Awong… dia tega mengayunkan golok ke arah sang Ayah karena permintaan-nya tidak dipenuhi… saat itu Awong juga di bawah pengaruh alkohol.

Kemiskinan…

Tantangan hidup yang dihadapi keluarga Sarna memang tidak ringan… Sarna sehari-hari bekerja di usaha konfeksi yang banyak terdapat di Tambora. Suaminya yang mengalami cacat setelah kecelakaan hanya bekerja sebagai tukang tambal ban. Mereka tinggal di sebuah rumah kontrakan di gang sempit nan padat di Tambora. Rumah itu sudah hampir ambruk… atapnya bocor di beberapa tempat… lantainya-pun masih tanah. Harga sewa rumah perbulan Rp. 80.000,- pasangan suami isti tersebut tinggal bersama 3 anaknya.

Pemberdayaan warga…

Dari kasus ini, menurut Ketua Program Studi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UI Erna Karim, menunjukkan peran keluarga menjadi sangat penting “Peran keluarga menjadi penting untuk meresosialisasi nilai-nilai yang telah luntur di luar rumah… Penting sekali orangtua menanyakan kepada anaknya apa yang dilihat ? apa yang didengar ? lalu memberi pengertian mana yang benar dan yang salah… Sayang-nya banyak keluarga yang tidak siap menjalankan keluarga seperti itu” Pemberdayaan keluarga yang tengah menghadapi banyak kesulitan-pun menjadi sangat penting agar bisa segera bangkit, justru tidak malah semakin terbelit.

Pendapat yunie… :mrgreen:

Dari kasus tersebut di atas, bisa menjadi pelajaran bagi kita semua… kita nantinya juga akan menjadi orangtua bagi anak-anak kita… kehidupan apa yang akan kita inginkan bagi anak-anak kita nanti ? pendidikan sekolah sangat penting selain pendidikan di dalam rumah… dengan bersekolah anak menjadi lebih terbuka dengan dunia luar dan punya wawasan… tapi sebagai orang tua kita juga perlu waspada dengan pergaulan anak-anak kita nanti… banyak juga anak-anak yang penurut dan patut sama ortu… akhirnya bisa sukses. Ironis juga melihat anak-anak yang berani bicara keras apalagi sampai memukul Ibu-nya sendiri… kehidupan di kota besar memang keras… temen-temen pasti sering liat anak-anak PUNK di jalanan-kan ? Coba kita perhatikan tingkah laku dan penampilan mereka… miris tapi kasihan juga ngeliatnya… 😦 seharusnya mereka punya masa depan yang indah tapi hancur karena pergaulan yang bebas, ternyata SDM manusia mempengaruhi tingkah laku dan cara berfikir manusia tersebut…

Ibu adalah orang yang pertama kali bertanggung jawab meluruskan penyimpangan perilaku buah hatinya… 😀 Bagaimana juga pertalian darah dan batin mereka tidak terbantahkan oleh apa pun… Setiap pasangan ibu dan anak mempunyai hubungan yang unik. Oleh karena itu… ibu haruslah cermat mengikuti perkembangan anak, dan taktis menghadapi gejala-gejala aneh si anak… 🙄 misalnya : anak suka berkata-kata kotor,  mencuri,  salah pergaulan, dan lain sebagainya… Perilaku menyimpang pada anak harus disikapi dengan cara yang bijak, salah satunya melalui bahasa si ibu… Ibu harus dapat mendidik, menasihati, membimbing, mengarahkan, ataupun memarahi dengan penuh kasih sayang…

Anak adalah titipan-Nya yang harus dijaga dengan baik… 😉 Untuk itu sedini mungkin ibu harus berani meluangkan waktu, tenaga, pikiran, dan kasih sayang untuk menyelami kepribadian dan perkembangan anak… Jika tidak, penyimpangan akan bermunculan. Semakin terlambat ibu bertindak membenahi penyimpangan itu, akan semakin sulit untuk meluruskannya kembali… 

Semoga bermanfaat yaaa…

image from google

aku pengen tau nich pendapat temen-temen Bloger dari Kasus di atas…

Boleh di share donk… 😉

Iklan